Memandirikan Dusun Melalui Pemberdayaan

Empat bulan berlalu, sinergisitas penggiat penanggulangan bencana di Mentawai belum terwujud. Ketika, pemerintah belum juga mampu membuat manajemen tepat untuk penanganan, disaat itu beberapa Non Government Organitation (NGO) mencari medan yang jelas untuk menjalankan program.

NGO bekerja sesuai dengan program yang diajukan kepada donor. Makanya, target adalah suatu kewajiban yang diatur dalam kontrak serta berjalan dalam koridor anggaran.

Sistem kerja NGO ini kurang dipahami oleh pemerintah dan instansi terkait. Hal ini memicu Plan Internasional bersama Yayasan Tanggul Bencana Indonesia (YTBI) mendirikan tujuh unit temporary school sebagai wahana pendidikan bagi pengungsi yang tak tercover oleh pemerintah.

“Pemerintah terkesan tidak serius. Padahal dia punya dana yang cukup serta orang pintar di pemerintahan, tapi tidak bisa memanajemen dengan baik,” ungkap Pengurus Yayasan Citra Mandiri (YCM) Rahmadi di Padang, Sabtu (12/3).

YCM sendiri, saat ini memandirikan Dusun Maonai dan Dusun Tumalei dengan sistem pemberdayaan masyarakat dalam membangun kembali pemukiman baru yang tidak jauh dari pemukiman lama serta kebun.

Lembaga yang lahir serta berbasis di Mentawai ini tahu betul karakter masyarakat Mentawai.

Gotong royong dan berkebun adalah dua pola kultural masyarakat Mentawai yang diterapkan dalam membangun ratusan hunian tetap (huntap) di dua dusun tersebut.

Pakem tersebut terbukti ampuh dibanding program pemerintah berupa sentralisasi pengungsian yang sangat jauh dari pemukiman lama.

Saat ini, YCM yang merupakan bagian dari Koalisi Lumbung Derma telah menyelesaikan 17 unit huntap di Maonai dari 37 unit yang direncanakan. Sementara itu, di Tumalei telah berdiri dengan gagah 11 unit huntap.

Ketika Media Indonesia berkunjung kesana, sekitar 30 unit juga dalam sedang pengerjaan. “Kendala kita saat ini adalah bahan bakar minyak (BBM) yang sering krisis dan ketersediaan kayu disekitar kampung yang mulai menipis,” ujar Koordinator Lumbung Derma Tumalei Reigen Sidarius Sakoikoi.

Gairah serta kejelasan penanganan di dua dusun ini menjadi magnet bagi NGO lain untuk membantu dalam berbagai hal.

Menurut Reigen, di dua dusun tersebut, tiga NGO ikut membantu. Plan Internasional membantu isi hunian, Mercy Corp membantu alat pertukangan dan Archenova mambangun sanitasi.

“Kita tertarik membangun sanitasi di dusun tersebut karena prinsip masyarakat sudah jelas yakni tidak mau tinggal jauh dari perkebunan mereka,” jelas Koordinator Logistik Archenova Muhammad Salim.

Dia menyayangkan, pemerintah belum juga punya rencana pasti hunian tetap bagi korban tsunami yang sekarang menempati hunian sementara di beberapa titik di Pagai Selatan, Pagai Utara dan Sipora Selatan.

“Hal tersebut membuat kita kesulitan dalam membangun sanitasi permanen,” tambahnya.

Selain di dua dusun tersebut, beberapa NGO juga mencoba mendorong kemandirian korban tsunami di Dusun Mapinang Utara, Pagai Utara dan Mapinang Selatan, Pagai Selatan.

Di Mapinang Utara, Plan Internasional bersama Yayasan Tanggul Bencana Indonesia sedang menjajaki pembangunan Temporary School (sekolah sementara).

Sedangkan di Mapinang Selatan, Green Music Foundation akan menjadikan dusun tersebut sebagai wilayah dampingan dalam proyek jangka panjang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: