Memasyarakatkan Rumah Aman Gempa di Indonesia

Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan alam yang melimpah, namun  disatu sisi Indonesia adalah termasuk negara yang rawan terhadap bencana khususnya gempa bumi. Ada dua patahan dari tiga patahan yang ada di dunia lewat di Indonesia yakni, Jalur Sirkum Pasifik dan Jalur Trans Asia. Jika kita menafsir sejarah, maka sangat perlu adanya upaya mitigasi gempa seperti membangun rumah yang aman gempa.

Perlu kita sadari, gempa berkekuatan diatas 5 SR yang sering mengguncang Indonesia menyebabkan banyak bangunan yang runtuh karena faktor lemahnya struktur bangunan. Maka mekanisme membangun rumah kedepannya harus mengacu pada standar rumah aman gempa.

Untuk menjawab kebutuhan bangunan seperti itu, telah banyak para pakar konstruksi bangunan merancang rumah yang aman gempa. Saat ini, Teddy Boen, seorang ahli konstruksi bangunan Indonesia telah mengkonsep petunjuk tentang membangun rumah aman gempa. Petunjuk tersebut disebarkan lewat buku, spanduk, poster, kalender, dan kaset VCD.

Rancangan Teddy Boen tersebut berupa rumah aman gempa tembokan. Setiap bahan yang digunakan dianjurkan memakai yang standar. Seperti, besi berdiameter 10 untuk rumah type 36 atau besi berdiameter 12 untuk rumah bertingkat. Dalam buku petunjuknya, perkuatan pondasi adalah pilar penting dalam membangun rumah.

Rumah Aman Gempa Berbasis Tradisi

Namun harus diakui, rumah aman gempa seperti ini sedikit lebih mahal jika dibandingkan dengan rumah biasa. Tentunya standar bangunan seperti ini bisa diterapkan oleh individu yang terbilang mampu atau kelas ekonomi menengah keatas. Lalu, bagaimana dengan masyarakat kelas ekonomi menengah kebawah atau korban gempa sendiri?

Nah, mungkin rumah semi modern berbahan material bambu adalah sebuah alternatif yang tepat. Desainnya bisa mengacu pada tradisi yang telah dikembangkan nenek moyang kita. Desain seperti ini juga telah banyak dikembangkan oleh beberapa pakar konstruksi Indonesia seperti Andri Wydiowijatnoko Mustakim (Arsitektur Institut Teknologi Bandung) dan Piet Djami Rebo, seorang ahli rancangan bangunan aman gempa Indonesia.

Para ahli konstruksi ini merancang bangunan yang aman dari gempa dan berbasis kearifan lokal. Mereka memilih bambu sebagai material utama. Sambungan tiang dengan anyaman bambu tidak menggunakan paku, tetapi dibentuk konstruksi hingga saling mengait. Kerangka bangunan juga masih dikuatkan dengan kerbil, kayu menyilang yang menopang sudut siku. Konstruksi ini diciptakan agar bangunan tahan terhadap guncangan gempa. Seandainya guncangan berkekuatan besar hingga bangunan roboh, korban jiwa bisa diminimalkan.

Bambu adalah jenis tanaman yang gampang ditemukan di Indonesia. Secara historis, bambu telah dimanfaatkan oleh nenek moyang kita untuk membangun hunian. Rumah berbahan material bambu bisa ditampilkan dalam bentuk rumah semi permanen atau semi modern.

Rumah berbahan material bambu bisa tahan puluhan tahun asalkan diikuti petunjuknya secara tepat. Untuk tahap awal, kita perlu melakukan seleksi terhadap bambu yang akan dimanfaatkan. Untuk hal ini, bambu hendaknya sudah berusia tua. Kisaran umurnya berada diatas 5 tahun.

Pengawetan juga mesti dilakukan pada bambu agar bisa meminimalisir dari ancaman rayap dan pelapukan. Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk pengawetan antara lain, melakukan perendaman, pengasapan dan memasukkan zat kimia ke dalam bambu. Hal ini hendaknya dilakukan selama sebulan sebelum di anyaman.

Setelah selesai anyaman bambu, maka kronologis teknis hunian aman gempa lainnya adalah perkuatan pondasi. Untuk rumah bambu ataupun semi permanen, pondasi yang digunakan bisa berupa pondasi umpang atau pakai sandi (batuan yang lebar dan datar) dan bisa juga diterapkan pondasi standar. Teknis ini sebenarnya telah diterapkan oleh nenek moyang kita sejak beberapa ratus tahun yang lalu.

Di berbagai pelosok tanah air seperti Sumatera Barat, Aceh, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan lainnya masih banyak kita temui rumah adat terbuat dari kayu yang berumur ratusan tahun. Semua bangunan tersebut sangat aman terhadap goncangan gempa karena nenek moyang kita merancangnya menyelaraskan dengan kondisi alam Indonesia.

Teknik membangun rumah peninggalan nenek moyang kita tersebut telah didesain ulang oleh para pakar konstruksi Indonesia dalam bentuk baru nan lebih modern. Mereka mendesain rumah berbahan bambu dengan corak modern. Para ahli tersebut tetap bersandar pada cara-cara yang diterapkan oleh nenek moyang terdahulu.

Meski beberapa ahli konstruksi mulai melakukan terobosan dalam mendesain rumah aman gempa, namun sangat disayangkan belum memasyarakat untuk saat ini. Terobosan tersebut seperti yang dilakukan oleh Teddy Boen dengan membuat rumah tembokan yang aman gempa. Secara konstruktur sangat kuat menahan goncangan begitu juga halnya dengan estetikanya. Namun, untuk mengembangkan tersebut mesti dilakukan suatu hal yang bersifat non teknis seperti pemberdayaan pada masyarakat.

Kampanye Rumah Aman Gempa

Suatu peradaban baru akan sulit diterima masyarakat tanpa ada pemberdayaan atau kampanye secara berkelanjutan. Begitu halnya dengan mitigasi gempa pada sektor rumah aman gempa. Meskipun bangunan lama seperti Rumah Gadang (Sumatera Barat) masih bisa dijumpai, tetapi masyarakat kita bisa dikatakan belum paham tentang rumah yang dikategorikan aman gempa. Apalagi itu menyangkut dengan rumah modern aman gempa. Tentu biaya mahal yang harus dikeluarkan dibandingkan dengan rumah biasa menjadi suatu penyebab keengganan masyarakat untuk menerapkannya.

Untuk mensiasati itu, maka perlu instansi dan lembaga terkait untuk melakukan kampanye secara simultan. Lembaga terkait harus terjun langsung pada masyarakat dalam memberi pengarahan betapa pentingnya rumah aman gempa. Caranya bisa berupa pertemuan langsung dengan tokoh masyarakat maupun masyarakat sendiri, membuat workshop, melakukan pemutaran film rumah aman gempa dari satu kampung ke kampung lainnya, pembuatan mural, pembagian spanduk, poster, dan kalender.

Selain itu, cara yang efektif lainnya adalah  penyampaian melalui berbagai media. Untuk media televisi bisa dengan cara menggelar talk show, film dokumenter, iklan, settingan acara lainnya. Sementara media cetak seperti koran bisa dijadikan untuk penyampaikan iklan layanan masyarakat. Dan radio adalah media untuk menyampaikan pariwara. Pemasangan billboard di beberapa titik jalan atau persimpangan tentang rumah aman gempa akan sangat menunjang penyampaiannya pada khalayak.

Untuk memperkuat pemberdayaan masyarakat beberapa instansi terkait serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergiat dalam program ini bisa menyewa fasilitator untuk langsung diterjunkan ke masyarakat. Mereka bisa menjadi duta rumah aman gempa dan secara langsung juga bisa mempraktekkan secara langsung cara membangun rumah aman gempa.

Tantangan tersulit dalam mengkampanyekan rumah aman gempa adalah mengubah stigma bahwa rumah aman gempa lebih mahal dibandingkan dengan rumah biasa. Maka, disinilah peran vital fasilitator maupun lembaga terkait bagaimana menghilangkan stigma tersebut mungkin dengan cara bahwa “keselamatan jiwa lebih penting dibandingkan dengan biaya pembuatan rumah”.

Pada prinsipnya, rumah aman gempa akan menarik bagi masyarakat, jika kita mampu untuk mengubah paradigma berpikir masyarakat tersebut. Untuk itu, selain melakukan berbagai macam kampanye, mestinya pemerintah dalam artian khusus pejabat mencontohkan langsung pada warganya dengan cara membangun bangunan aman gempa baik itu rumah pribadi maupun kantor dinasnya.

Kampanye rumah aman gempa sangat berarti untuk menggiatkan pembangunan rumah aman gempa di Indonesia. Ketika hal itu sudah menjadi trend di tengah masyarakat, maka berapa pun besarnya gempa menggoncang negeri ini, setidaknya kerusakan dan kehancuran bangunan tidak sebesar bencana gempa sebelumnya. Tentunya, korban jiwa juga bisa diminimalkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: