Pesta “Rakyat Badarai”

Sore itu, Maradi (42) sehabis duduk di warung segera bergegas menuju pulang. Janda lima orang anak ini, seperti halnya kebiasaan orang kampung lainnya, menyiapkan segala sesuatu untuk bekal malam harinya. Tidak seperti hari biasanya, hari itu (10/7/2010), masyarakat Malalak Selatan, dapat suguhan rangkaian acara di malam hari oleh sebuah LSM. Dan Maradi telah mengisyaratkan untuk tidak melewatkan peristiwa itu.

Deretan beraneka ragam warung dipertigaan Pasar Malalak Selatan itu, dipenuhi tua- muda, laki-laki-perempuan. Orang-orang yang melepaskan lelah, sembari merangkai cerita satu sama lain sambil menikmati segelas kopi di warung itu. Maradi, seperti halnya perempuan kampung, ada hal yang lebih penting dikerjaan di rumah ketimbang berlama-lama di warung. “Sore hanya perantara waktu menjelang datangnya malam,” sesuatu yang terbesit dalam pikiran Maradi.

Menjelang matahari menghilang di ufuk Barat, Maradi bergegas pulang bersama satu orang anaknya. Sesampainya di rumah, Maradi segera mengepak penganan kacang tojin dalam bentuk bungkusan kecil. Usaha ini baru dirintisnya seminggu yang lalu. Berbekal pinjaman koperasi berjalan di nagari tersebut, Maradi membulatkan tekadnya untuk menyambung puing-puing ekonomi yang mengendur selepas gempa.

Terlepas dari pembuat kacang tojin, Maradi adalah seorang buruh tani. Menikmati upah Rp 30 ribu/hari dari pemilik sawah dan itu hanya 4 kali dalam seminggu sebelum gempa. Satu-satunya nafkah yang bisa dilakukan untuk bertahan hidup dan biaya sekolah bagi lima orang anaknya.

Wanita paruh baya ini telah menjanda lima tahun ditinggal mati suaminya. Pasca gempa, saluran irigasi banyak yang hancur hingga merembes pada simpul perekonomian masyarakat di nagari itu. Sekitar 80% masyarakat di nagari yang terletak di kaki Gunung Tandikek tersebut adalah petani.

Menjelang magrib, Maradi membawa kacang tojin dalam bungkusan kecil yang diikat tali rapia. Kacang Tojin yang dijual Rp 1.000 perbungkus ini diedarkan di warung-warung sekitar pasar. “Sebagian besar masyarakat akan menunggu di warung sebelum pemutaran film digelar. Begitu juga setelah berakhirnya pemutaran film, semuanya akan kembali ke warung,” naluri bisnis Maradi berkata.

Warung adalah ruang tempat demokrasi digelar bagi masyarakat Minangkabau. Warung dari dulunya menjadi media pembentuk dasar kritis bagi etnis Minangkabau. Disana dalam satu jam, pengunjung  bisa berkeliling dunia dalam simpul cerita.

Maradi kala itu, tidak sendiri dalam menyibukkan diri. Sebagian besar masyarakat Malalak Selatan tidak sabar menunggu pesta yang akan digelar malam itu. Pemutaran film melalui pantulan proyektor adalah suatu yang langka disana. Dan, kehebatan anak nagari dalam memainkan Gandang Tasa dan silek juga akan dipertunjukkan pada malam itu.

Mungkin berkah sebagai daerah korban gempa adalah kunjungan dari NGO yang membawa peadaban baru. Masyarakat yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Padang Pariaman ini, telah dibiasakan peradaban baru dalam sepuluh bulan terakhir. Bertemu dengan orang-orang baru beragam suku, etnis, dan bangsa dengan membawa produk terbaru. Pemutaraan film melalui proyektor dan pergelaran mural adalah peradaban terbaru.

Sebelum matahari menghilang di ufuk Barat, panitia acara telah siap siaga. Layar telah terkambang, sound sistem juga telah di stel, pentas juga telah dirangkai. Beberapa kursi disiapkan untuk menyambut aparatur nagari dan kecamatan.

Sebuah pemutaran film di lapangan bisa menjelma menjadi sebuah pesta bagi rakyat badarai. Hiburan pelepas kepenatan sekaligus sekaligus menambah pengetahuan soal bangunan aman gempa. Anak-anak juga bisa menikmati film animasi yang tidak ditemui di televisi stasiun swasta.

Ba’da Magrib semua melangkah menuju SD 02 Malalak Selatan yang telah porak poranda oleh dahsyatnya gempa 30/S 2009 yang lalu. Mereka menuju panggung hiburan yang telah tersedia. Maradi hanya satu diantara masyarakat Malalak Selatan yang tidak ingin melewatkan peristiwa langka itu.

Acara yang diinisiasi oleh Yayasan Idep dengan penggarapan oleh Komunitas TROTOaRT, menggelar pemutaran film “Rumah Aman Gempa” di nagari itu. Beberapa sub acara lainnya juga digelar seperti mural, dan merangkai rumah dari bahan kertas telah dimulai siang.

Rona senyum terlihat pada bocah-bocah di nagari yang kehilangan 63 jiwa penghuni akibat gempa besar September lalu. Rangkaian pemutaran film malam itu diawali oleh film animasi tentang lingkungan. Ketika film animasi mulai diputar, mata bocah-bocah sulit berkedip melihat sesuatu yang baru itu, bahkan mereka kadang sudah seperti paham pesan yang disampaikan dalam animasi itu.

Bagi anak-anak tersebut, keramaian di kampungnya merupakan suatu anugerah. Kehidupan biasanya terhenti di pukul 8 malam, manakala harus kembali kerumah sehabis mengaji di surau. Tapi, sekarang mengaji dilupakan sejenak karena ada pesta yang dibawa oleh orang luar. Mungkin tidak bisa ditemui dilain hari.

Film animasi berakhir diiringi suara kelakar anak-anak dan tua-muda penghuni kampung. Acara semakin bergairah ketika diselingi pementasan tambua tasa dari anak nagari. Cukup sekilas, penonton di depan layar putih itu berbondong-bondong menuju depan pentas. Tempat pertunjukan tambua tasa. Mereka kemudian membentuk lingkaran. Dan yang datang belakangan, menikmati irama gendang tambua tasa dari atas pagar sekolah.

Walinagari cukup mengambil peran vital di malam itu. Tampil di atas pentas, suara walinagari sekali-kali terdengar untuk menyemangati masyarakat. Bahkan, walinagari diberi kepercayaan untuk mengumumkan penerima kupon berhadiah undian dari pihak penyelenggara.

Sebuah pertunjukan ada batasnya. Suara gandang tasa berakhir takkala pemainnya mulai berhenti memukul saat syimponi berakhir. Sesaat itu, kerumunan massa kembali tertuju pada layar raksasa berukuran putih.

Pihak penyelenggara kembali memutar film. Kali ini adalah puncak rangkaian pemutaran film. Film tentang kampanye rumah aman gempa. Mungkin bukan film favorit bagi remaja sekarang ini dan bukan juga film bertema hantu yang banyak dibuat sineas Indonesia saat ini. Tapi, hanya sebuah film yang berisi pengetahuan dan sebuah solusi keselamatan jiwa saat gempa melanda. Film yang lugas dan cerdas.

Meski begitu, antusias kaum muda nagari itu cukup tinggi. Berbagai adonan bedak, merona di pipi para remaja cewek. Dengan bekal motor keluaran terbaru, beberapa cowok sangat pede melakukan pe-de-ka-te pada cewek yang berkulit kuning langsat berdasarkan cahaya lampu dimalam itu. Film terus berputar, namun pe-de-ka-te harus terus berjalan. Bagi yang beruntung, pe-de-ka-te akan membuahkan hasil berupa nomor hp dan akun fesbuk. Selanjutnya, mungkin tergantung olahan.

Tapi tidak semua remaja menjalankan misi serupa. Itu hanya bagian bumbu-bumbu kesemarakan acara. Dan yang pasti, para orang tua sangat serius menonton pemutaran film rumah aman gempa itu. Beban sebagai orang tua untuk menyediakan tempat yang layak huni bagi seluruh awak keluarga membuat mereka mengikuti sedetail mungkin jalannya film.

Kisah tragis ketika hancurnya rumah saat gempa besar mengguncang tentu tidak ingin terulang lagi. Harapan akan membangun seperti sediakala terkendala dalam biaya. Rumah semi permanen menjadi idaman baru. Biaya sedikit dengan resiko tipis ketika datang bumi bergoncang.

Pengetahuan yang didapat dari film “rumah aman gempa”, mungkin perlu waktu merealisasikannya. Saat ini bantuan senilai jutaan rupiah yang dijanjikan pihak pemerintah adalah idaman bagi 700 kk korban gempa di Nagari Malalak Selatan. Bantuan yang bisa implementasikan menjadi rumah semi permanen ataupun membangun rumah berdasarkan “rumah aman gempa” yang dituturkan film tersebut.

Pertunjukan silat dari pemuda nagari menutup rangkaian pesta, berbarengan dengan digulungnya layar putih oleh penyelenggara. Silat berakhir, kerumuman massa terpecah menuju peraduan masing-masing. Ada yang kembali ke warung dan ada yang langsung ke rumah.

Semuanya takkan melupakan acara dimalam itu. Sebuah pesta langka bagi masyarakat perkampungan. Pesta itu akan selalu digoreskan dan terukir dibenak pikiran.

Mungkin warisan lisan nanti kelak.

Gandaria I, 12/07/2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: