Kehidupan Berubah di Tanjung Sani

Bak roda pedati, begitulah nasib yang dialami M.St. Mangkudun (45), warga Batu Nanggai, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat. Sebelum gempa, Mangkudun yang memiliki delapan keramba apung di Danau Maninjau mampu meraih omset Rp15 juta per bulan.

Namun gempa 30 September 2009 mengubah kehidupannya, semua keramba miliknya dan beberapa warga lain hilang tertimpa longsoran bukit yang jatuh ke danau. Rumah hancur, iapun terpaksa tinggal di tenda darurat berukuran 3 x 4 meter berdesakan dengan tiga kepala keluarga lainnya.

Tidak ada aktifitas ekonomi di lokasi pengungsian. Warga penghuni shelter terlihat berdiam dan berharap pemerintah membantu mereka untuk melanjutkan hidup. Sebagian warga mengaku masih melanjutkan kehidupan dari sisa-sisa sumber ekonomi yang masih ada.

“Ladang yang didalamnya berisi cokelat, pala, kulit manis harus dibagi empat keluarga karena ditanam ditanah pusako kami,” tutur M.St. Mangkudun pada Sandereh, akhir Juni lalu.

Karena hasil ladang tidak bisa diharapkan untuk menopang perekonomian, beberapa kepala keluarga korban menjalani beberapa profesi baru seperti, tukang las, tukang kayu, merantau, dan bekerja pada orang lain.

“Untuk sehari-hari kita berharap dari bantuan yang datang,” ujar Afrizal (47) warga Jorong Pandan. Ia mengaku, kesulitan untuk memenuhi kebutuhan keluarga pasca bencana. Untuk pemenuhan kebutuhan keluarga, ayah empat anak ini bolak-balik ke Jorong Pandan untuk mengurus ladang yang masih tersisa.

Jorong Pandan merupakan satu dari empat jorong di Kecamatan Tanjung Sani yang berada di zona merah bencana. Hal serupa juga dialami warga di Jorong Galapuang, Muko Jalan, dan Jorong Batu Nanggai. Pasca gempa 7,9 SR, desa mereka kembali dihantam longsor pada 25 April lalu.

Bencana alam susulan ini mengakibatkan sejumlah rumah warga hancur hingga tenggelam ke danau diseret material longsor. Sebanyak 591 Kepala Keluarga (KK) saat ini mengungsi di nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam.

181 KK saat ini ditampung di shelter yang dibangun oleh salah satu LSM. sementara itu Pemerintah Kabupaten Agam sedang membangun 118 shelter untuk menampung korban gempa dan longsor lainnya di Jorong Kubu, Nagari Sungai Batang. Organisasi keagamaan Muhammadiyah juga membangun hunian sementara untuk 45 KK yang dibangun di Sungai Batang dan Tanjung Sani. (yose hendra/erinaldi/ocha)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: