Merajut Asa Di Lokasi Penampungan

BELASAN anak berlari kian kemari menikmati matahari yang mulai bermukim di ufuk barat. Mereka sibuk bermain ayunan sembari tertawa gembira. Sekelompok anak lelaki terlihat sibuk mengejar dan menendang bola.

Tak terlihat guratan trauma di wajah-wajah lugu bocah korban gempa 7,9 Skala Richter yang mengguncang Sumatera Barat akhir September 2009 lalu saat reporter Sandereh berkunjung ke lokasi pengungsian, Kamis, 13 Mei 2010. Mereka larut dalam permainan di lapangan pengungsian korban bencana, Korong Ambung Kapur, Nagari Sungai Sariak, Kecamatan VII Koto, Kabupaten Padang Pariaman.

Menjelang malam, kesenangan itu buyar seiring dengan adzan Magrib. Mereka kembali ke tempat penampungan yang berjarak hanya sekian meter dari lokasi bermain. Kegelapan mulai menyelimuti lokasi pengungsian. Lampu-lampu penerangan di sekitar lokasi shelter mulai menyala.

Tujuh bulan lalu, desa mereka hancur diguncang gempa besar. Sekitar 90 persen dari rumah-rumah permanen orang tua mereka mengalami rusak berat dan tidak bisa ditempati. Menurut informasi warga, tak kurang sebanyak 350 rumah hancur dari 400 rumah yang berada di Korong Ambung Kapur.

Sedikitnya, sekitar 112 KK (kepala keluarga) tinggal di  shelter yang dikelola pihak lembaga kemanusiaan. Sedangkan sisanya, masih menempati rumah yang mengalami rusak sedang dan ringan. Mereka rata-rata berprofesi sebagai petani tanpa penghasilan tetap.

Di lokasi shelter Ambung Kapur terdapat 121 ruangan berbentuk huruf U yang dilengkapi 22 unit MCK. Dindin dan lantai shelter dibangun dari kayu beratapkan seng. Sejumlah bangunan lain seperti mushalla, sekolah darurat, dua pustaka, dapur umum, gudang, klinik kesehatan, serta ruang kantor bagi pihak pengelola, juga dibangun dengan material yang sama.

Setiap shelter berukuran 3 X 5 meter ini ditempati satu kepala keluarga. Ruangan ini yang dimanfaatkan para penghuninya untuk beraktifitas sehari-hari oleh enam anggota keluarga hingga delapan orang.

Salah seorang penghuni shelter yang ditemui di lokasi mengaku kondisi tersebut tentunya tidak memenuhi standar layaknya rumah tinggal sebelumnya. “Namun mau bagaimana, tidak ada pilihan lain. Bantuan untuk membangun rumah kembali juga belum jelas,” ujar Darmawati (45) penghuni shelter Blok B Nomor 28.

Ia beserta enam orang anaknya dan orang tuanya mendiami hunian sementara ini. Kediaman Darmawati hanya berbentuk segi empat yang disekat dengan kelambu untuk membedakan ruangan yang satu dengan ruangan lainnya.

Janda enam orang ini berprofesi sebagai petani untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga. Ia mengaku masih menerima bantuan raskin sebanyak 15 kilo gram per  bulan dari pemerintah. Sedangkan semua peralatan dapur yang digunakannya saat ini berasal dari bantuan berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Dengan kondisi serba terbatas ini, sejumlah penghuni shelter mengeluhkan tentang layanan air bersih. Sumber air di lokasi shelter dialirkan dari satu unit sumur bor yang dimanfaatkan seluruh penghuni shelter. Air ini digunakan untuk kebutuhan sehari-hari warga penghuni lokasi pengungsian.

Menurut Toke (42) penghuni Blok B, sumber air bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan warga. “Air yang berasal dari sumur bor cukup bersih, namun pasokan air sering kurang,” katanya.

Persoalan seperti menumpuk di kalangan penghuni lokasi penampungan sementara. Sejumlah penyakit pernafasan menyerang para penghuni shelter. Tidak hanya persoalan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pangan, kesehatan, dan perumahan. Mereka juga dihampiri persoalan ekonomi untuk memenuhi kebutuhannya.

Komsiati, warga Blok B  lainnya yang ditemui mengaku kesulitan untuk memulai kehidupan baru pasca gempa. Suaminya mengalami patah kaki akibat reruntuhan bangunan saat gempa merusak kediaman mereka.

“Suami saya kakinya patah sehingga menyulitkannya untuk bekerja memenuhi kebutuhan sehari-hari. Anak saya juga masih kecil, saya berharap sekali bantuan modal buat buka warung,” keluhnya.

Pihak pengelola shelter yang ditemui mengaku tidak bisa berbuat banyak untuk memenuhi segala bentuk kebutuhan hak dasar warga. Taufik, salah seorang tenaga pendamping pada Integrited Community Shelter (ICS) yang didirikan Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengakui kondisi di penampungan tidak sebagus saat mereka hidup normal sebelum bencana.

“Kita telah berbuat semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan lembaga. Sebagai pendamping saya bekerja untuk memotivasi warga korban bencana pulih dari trauma pasca gempa,” tuturnya.

Ia mengatakan, hunian sementara ini hanya berfungsi maksimal selama satu tahun. Di ICS sendiri, awalnya hanya difungsikan selama enam bulan. Namun karena inisiatif bersama penghuni, shelter tersebut diperpanjang usianya menjadi satu tahun.

Dengan kesepakatan ini, warga hanya memiliki waktu lima bulan ke depan berada di penampungan. Lokasi yang semula merupakan lapangan bola kaki ini akan kembali beralih fungsi seperti sediakala. Sedangkan pihak ACT tentunya akan hengkang dari lokasi setelah programnya selesai.

Masa transisi ini menjadi tantangan pemerintah untuk memulai program rekonstruksi. Warga berharap, bantuan dana untuk membangun hunian baru segera direalisasikan. “Jika tidak ada bantuan pemerintah, kita akan mengambil material shelter untuk membangun rumah sendiri,” ujar SK Effendi, warga penghuni penampungan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: